{"id":295,"date":"2016-11-30T02:22:25","date_gmt":"2016-11-30T02:22:25","guid":{"rendered":"https:\/\/meraukelanguages.org\/?p=295"},"modified":"2016-11-30T03:02:59","modified_gmt":"2016-11-30T03:02:59","slug":"petrus-ndimar-kekayaan-rawa-biru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/meraukelanguages.org\/id\/publications\/petrus-ndimar-kekayaan-rawa-biru\/","title":{"rendered":"Petrus Ndimar: Kekayaan Rawa Biru"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai pusat dari marga Ndimar dan orang Kanum secara keseluruhan, daerah Rawa Biru adalah sumber dari kehidupan orang Kanum itu sendiri. Dalam bahasa Kanum, Rawa Biru disebut dengan <em>Yero<\/em>. Rawa ini sangat berarti sekali bagi orang Kanum karena menjadi sumber kehidupan dengan airnya yang selalu menghidupi warga di sekitarnya. Petrus menuturkan meskipun musim kering tiba, air di rawa tetap ada. Oleh sebab itulah pompa air yang berada di Rawa Biru selalu bisa beroperasi mengairi warga di sekitar rawa dan masyarakat Kota Merauke.<\/p>\n<p>Rawa Biru mempunyai cabang-cabang yang mengalir hingga ke dusun-dusun sagu milik masyarakat di dekat perkampungan. Petrus Ndimar menjelaskan nama cabang-cabang dari rawa biru itu melintasi daerah dusun-dusun milik beberapa marga, termasuk diantaranya adalah marga Ndimar sendiri. Ia menjelaskan beberapa cabang dari Rawa Biru itu adalah: <em>Kanjakai, Meyer, Berota, Ndendesum<\/em>, dan <em>Kanggania<\/em> sendiri yang merupakan dusun sagu kepemilikan dari marga Ndimar. Rawa Biru dengan berbagai anak cabangnya tersebut mengalir hingga turun ke laut dan menghidupi sebagian masyarakat di Merauke, baik melalui sungai-sungai cabangnya maupun Rawa Biru sendiri dengan pompa airnya yang mencukupi kebutuhan air di wilayah Kota Merauke.<\/p>\n<div id=\"attachment_291\" style=\"width: 997px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-291\" class=\"size-full wp-image-291\" src=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-001.jpg\" alt=\"Bersama Petrus Ndimar menuju kebun di belakang rumahnya yang merupakan jalan menuju Dusun Kanggania, tempat \u201cmencari\u201d marga Ndimar di Kampung Tomeraw (foto: I Ngurah Suryawan)\" width=\"987\" height=\"740\" srcset=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-001.jpg 987w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-001-300x225.jpg 300w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-001-768x576.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 987px) 100vw, 987px\" \/><p id=\"caption-attachment-291\" class=\"wp-caption-text\">Bersama Petrus Ndimar menuju kebun di belakang rumahnya yang merupakan jalan menuju Dusun Kanggania, tempat \u201cmencari\u201d marga Ndimar di Kampung Tomeraw (foto: I Ngurah Suryawan)<\/p><\/div>\n<p>Petrus Ndimar menuturkan bahwa di Rawa Biru hidup hewan-hewan dan berbagai jenis ikan terutama yang menjadi incaran bagi masyarakat kampung. Beberapa jenis ikan tersebut dan juga dalam bahasa Kanum-nya adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Ikan Kaloso (arwana) <em>Keware<\/em><\/li>\n<li>Ikan Kakap <em>Ndolon<\/em><\/li>\n<li>Ikan Sembilan <em>Berker<\/em><\/li>\n<li>Ikan Muncung Panjang <em>Motelung<\/em><\/li>\n<li>Ikan Gabus <em>Tumplin<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p>Sementara ikan mujair dan lele adalah ikan pendatang yang tidak ada bahasa Kanum-nya. Selain ikan juga terdapat buaya (<em>Keri<\/em>) yang terdapat di Rawa Biru.<\/p>\n<div id=\"attachment_289\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-289\" class=\"size-large wp-image-289\" src=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-007-1024x768.jpg\" alt=\"Petrus Ndimar menujukkan inilah salah satu tempat sacral marga Ndimar di Kampung Tomeraw dimana rawanya ditumbuhi pohon teratai. Mereka tidak akan mengambil pohon teratai ini (foto: I Ngurah Suryawan)\" width=\"1024\" height=\"768\" srcset=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-007-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-007-300x225.jpg 300w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-007-768x576.jpg 768w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-007.jpg 1087w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><p id=\"caption-attachment-289\" class=\"wp-caption-text\">Petrus Ndimar menujukkan inilah salah satu tempat sacral marga Ndimar di Kampung Tomeraw dimana rawanya ditumbuhi pohon teratai. Mereka tidak akan mengambil pohon teratai ini (foto: I Ngurah Suryawan)<\/p><\/div>\n<p>Di Rawa Biru juga terdapat tumbuhan yang bagi marga Ndimar disebut dengan <em>Ngokolowo<\/em> yaitu sejenis tebu rawa yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pembungkus sagu. Tidak hanya itu, batang dari tebu rawa ini juga bisa diisap batangnya. Dengan tumbuhan <em>Ngokolowo <\/em>inilah orang Kanum dan juga orang Marind membuat makanan dari sagu yang dipersiapkan untuk bakar batu. Oleh orang Kanum makanan dari sagu yang dibungkus dengan tumbuhan <em>Ngokolowo <\/em>itulah yang disebut dengan <em>Sef<\/em>. Setelah <em>Sef<\/em> terkumpul yang biasanya disiapkan oleh laki-laki dan perempuan dengan membungkus sagu di daun-daun <em>Ngokolowo, <\/em>maka bakar batu sudah siap untuk dilaksanakan. Sebelumnya lokasi bakar batu sudah ditentukan dan batu-batu yang sudah dipanaskan sebelumnya sudah dikumpulkan. Bakar batu dalam Bahasa Marori disebut dengan <em>Karo<\/em>. Tidak hanya sagu saja yang utama, yang biasanya digunakan untuk kepentingan ritual, tapi daging-daging babi, kangguru dan yang lainnya, ikan, dan sayur-sayuran juga dimasukkan ke dalam tempat bakar batu. Setelah terkumpul semua bahan-bahan untuk bakar batu itu, kemudian dimulailah acara bakar baku. Pelaksanaan bakar batu selain disebut dengan <em>Karo<\/em> juga sering disebut dengan<em> Karo Kwerrori<\/em>.<\/p>\n<div id=\"attachment_292\" style=\"width: 1011px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-292\" class=\"size-full wp-image-292\" src=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-002.jpg\" alt=\"Bersama Petrus Ndimar menjelang sore di wilayah kebunnya di belakang Kampung Tomeraw (foto: I Ngurah Suryawan)\" width=\"1001\" height=\"751\" srcset=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-002.jpg 1001w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-002-300x225.jpg 300w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/petrus-ndimar-002-768x576.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1001px) 100vw, 1001px\" \/><p id=\"caption-attachment-292\" class=\"wp-caption-text\">Bersama Petrus Ndimar menjelang sore di wilayah kebunnya di belakang Kampung Tomeraw (foto: I Ngurah Suryawan)<\/p><\/div>\n<p>Hewan-hewan yang hidup di Rawa Biru juga banyak jumlahnya. Ada hewan-hewan yang disebut oleh Petrus Ndimar sebagai pendatang yang tidak ada dalam bahasa Orang Kanum yaitu babi dan rusa. Bintang yang mempunyai hubungan sejarah dengan orang Kanum adalah kangguru yang dalam bahasa orang Kanum disebut dengan <em>Taori<\/em>. Orang sering menyebutnya dengan <em>Saham<\/em> yang merupakan bahasa Marind. Sementara Babi dalam bahasa Kanum adalah <em>Kembo<\/em> dan Kuskus adalah <em>Waitema<\/em>.<\/p>\n<div id=\"attachment_290\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-290\" class=\"size-large wp-image-290\" src=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-008-1024x768.jpg\" alt=\"Ruas-ruas jalan dari Kampung Tomeraw menuju dusun dari marga Ndimar hingga tembus ke Rawa Biru (foto: I Ngurah Suryawan)\" width=\"1024\" height=\"768\" srcset=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-008-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-008-300x225.jpg 300w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-008-768x576.jpg 768w, https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/kampung-tomerauw-008.jpg 1074w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><p id=\"caption-attachment-290\" class=\"wp-caption-text\">Ruas-ruas jalan dari Kampung Tomeraw menuju dusun dari marga Ndimar hingga tembus ke Rawa Biru (foto: I Ngurah Suryawan)<\/p><\/div>\n<p>Petrus Ndimar juga mengungkapkan bahwa selain jenis ikan dan hewan yang memiliki hubungan dengan marga Ndimar, ada berbagai tumbuh-tumbuhan yang hidup di Rawa Biru dan juga menyebar di <em>Kanggania<\/em>, yang merupakan dusun kepemilikan dari marga Ndimar. Banyak pohon-pohon kayu yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat di kampong untuk pembuatan rumah. Pohon kayu tersebut ada berbagai jenis. Beberapa diantaranya bahkan dijual kepada oran-orang kota (Merauke) yang datang ke Tomeraw untuk membeli kayu. Diantara pohon-pohon tersebut yang memiliki kegunaan bagi marga Ndimar di Tomeraw adalah Pohon Bus. Kulitnya yang bernama <em>Syeah<\/em> dalam Bahasa Kanum dipergunakan untuk membuat atap-atap rumah tradisional hingga kini. Memang banyak rumah di Tomeraw sudah beratap seng, namun ada beberapa rumah yang masih menggunakan <em>Syeah<\/em>. Biasanya mereka menggunakannya untuk atap dapur atau rumah tambahan selain rumah pokok dengan atap seng dan dinding kayu atau semen. Selain itu juga terdapat pohon Rahai yang dalam bahasa Kanum disebut dengan <em>Tarbi<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai pusat dari marga Ndimar dan orang Kanum secara keseluruhan, daerah Rawa Biru adalah sumber dari kehidupan orang Kanum itu sendiri. Dalam bahasa Kanum, Rawa Biru disebut dengan Yero. Rawa ini sangat berarti sekali bagi orang Kanum karena menjadi sumber kehidupan dengan airnya yang selalu menghidupi warga di sekitarnya. Petrus menuturkan meskipun musim kering tiba,<br \/><a class=\"moretag\" href=\"https:\/\/meraukelanguages.org\/id\/publications\/petrus-ndimar-kekayaan-rawa-biru\/\">+ Read More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_locale":"id_ID","_original_post":"287","footnotes":""},"categories":[26,12],"tags":[],"class_list":["post-295","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ethongraphic-reports","category-publications","id-ID"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/meraukelanguages.org\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}